Waspada! Di Balik Genangan Air Banjir, Ada Bahaya Leptospirosis yang Mengintai

Pernahkah kamu membayangkan bahwa genangan air hujan bisa membawa ancaman penyakit serius?

Leptospirosis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Leptospira. Bakteri ini umumnya menyebar melalui urine hewan yang terinfeksi, terutama tikus, lalu mencemari air, tanah, atau genangan di sekitar lingkungan. Saat musim hujan atau banjir tiba, risiko penularan penyakit ini meningkat secara signifikan.

Cara Penularan dan Faktor Risiko

Bakteri Leptospira masuk ke dalam tubuh manusia melalui luka terbuka pada kulit, luka gores, atau selaput lendir seperti mata, hidung, dan mulut. Beberapa kondisi yang meningkatkan risiko penularan meliputi:

  • Kontak Kulit Terluka dengan Air Terkontaminasi: Bakteri masuk melalui luka terbuka pada kulit saat berjalan atau beraktivitas di air banjir, genangan, atau lumpur yang tercemar urine hewan.
  • Kontak dengan Selaput Lendir: Bakteri menembus jaringan lunak/selaput lendir pada mata, hidung, atau mulut ketika terpapar percikan air atau tanah yang terkontaminasi.
  • Makanan atau Air yang Tercemar: Menelan air minum atau makanan yang telah terkontaminasi oleh urine hewan terinfeksi, misalnya makanan yang digigiti tikus.
  • Kontak Langsung dengan Hewan Terinfeksi: Menyentuh langsung cairan tubuh, jaringan, atau urine dari hewan yang terinfeksi, seperti tikus, anjing, atau hewan ternak.
  • Aktivitas Pekerjaan: Terpapar lingkungan berisiko tinggi, seperti berenang di sungai/danau yang tercemar, atau bekerja di area berlumpur, seperti petani di sawah dan pekerja selokan.

Gejala Utama Leptospirosis

Masa inkubasi Leptospirosis umumnya berkisar antara 5 hingga 14 hari setelah paparan. Pada tahap awal, gejalanya sering kali menyerupai flu biasa atau demam berdarah, antara lain:

  • Demam Tinggi: Penderita mengalami demam tinggi yang muncul secara tiba-tiba dan sering disertai menggigil hebat.
  • Nyeri Otot: Rasa sakit dan nyeri pada otot, terutama di daerah betis dan punggung bawah.
  • Sakit Kepala: Pusing atau sakit kepala yang berdenyut di area dahi atau belakang mata.
  • Mata Merah: Mata tampak memerah terang tanpa disertai kotoran atau belek.
  • Mual, Muntah, dan Gangguan Pencernaan: Rasa mual yang kuat, kehilangan nafsu makan, hingga muntah dan diare ringan.

Jika tidak segera ditangani, Leptospirosis dapat berkembang menjadi kondisi berat yang berpotensi merusak organ vital seperti hati dan ginjal, hingga memicu gagal ginjal atau perdarahan paru-paru.

Langkah Pencegahan

Mencegah penularan Leptospirosis dapat dilakukan dengan menerapkan pola hidup bersih dan sehat:

  • Gunakan Alat Pelindung Diri: Pakai sepatu bot dan sarung tangan saat beraktivitas di area banjir, genangan air, selokan, atau tanah berlumpur.
  • Hindari Kontak dengan Air Terkontaminasi: Jangan berenang, berendam, atau berjalan tanpa alas kaki di air banjir atau genangan air yang berpotensi tercemar urine hewan.
  • Jaga Kebersihan Lingkungan: Tutup rapat tempat sampah, bersihkan area rumah secara rutin, dan simpan makanan di wadah tertutup agar tidak dijangkau tikus.
  • Cuci Tangan dan Kaki dengan Sabun: Segera cuci tangan, kaki, dan bagian tubuh lainnya menggunakan air mengalir dan sabun setelah beraktivitas di luar rumah.
  • Rawat Luka Terbuka: Bersihkan luka lecet atau goresan pada kulit dengan antiseptik, lalu tutup menggunakan plester kedap air sebelum beraktivitas di luar rumah.

Jika mengalami gejala demam dan nyeri otot setelah terpapar air banjir atau lingkungan kotor, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan medis sedini mungkin.

Share your love

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *